Showing posts with label Destination Branding. Show all posts
Showing posts with label Destination Branding. Show all posts

Pengembangan Produk Pariwisata di Kampung Dago Pojok

Atas rasa kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan pariwisata di Kota Bandung, yang tampaknya tidak menyentuh lapisan masyarakat kampung di pinggiran Kota Bandung, maka disusunlah suatu tesis menyangkut salah satu Kampung Kreatif di Kota Bandung. Dalam tesis ini akan dibahas mengenai “Pengembangan Produk Pariwisata Perdesaan di Kampung Dago Pojok”. Berkembangnya kegiatan-kegiatan kebudayaan dan kegiatan-kegiatan kreatif di Kampung Dago Pojok sebagai respon atas ketidakterlibatan masyarakat dalam perkembangan pariwisata Bandung, merupakan suatu fenomena yang menarik untuk dikaji. Berangkat dari kekhawatiran masyarakat Kampung Dago Pojok yang tidak ingin tempat tinggalnya terabaikan karena penduduknya keluar mencari nafkah di kota, maka diinisiasi suatu gerakan sosial yang mengembangkan kegiatan budaya sebagai daya tarik wisata. Dengan kekhawatiran seperti itu, masyarakat Kampung Dago Pojok di pinggiran utara Kota Bandung, mencoba menghidupkan kegiatan-kegiatan kebudayaan di lingkungannya, dengan harapan akan bisa menjadi daya tarik untuk menjadi alternatif kunjungan wisatawan. Tesis ini menawarkan model pengembangan produk pariwisata secara terintegrasi dengan membuat perencanaan dan pengelolaan, serta pendidikan dan pelatihan agar kegiatan-kegiatan di kampung tersebut mampu dikelola oleh warga masyarakat sendiri, hingga mewujud sebagai suatu kesatuan produk pariwisata yang layak ditawarkan kepada wisatawan. Setelah produk pariwisata ini terbentuk, maka kedatangan wisatawan pun akan bisa ditingkatkan baik frekuensi maupun kualitas kunjungannya. Untuk presentasinya bisa diunduh di sini.

Ubud, Desa Para Pelukis

Hal pertama yang terlintas dalam pikiran ketika seseorang mengatakan kata Ubud, adalah lukisan. Ubud tak diragukan lagi terpandang di mata dunia sebagai desa pelukis. Gaya lukisan di Ubud juga sangat spesifik. Hal ini sebenarnya dapat dianggap mirip dengan lukisan dari Cina dalam hal gaya perspektif. Lukisan Ubud secara tradisi menempatkan objek dalam perspektif yang dianggap terlihat jauh di sebelah atas lukisan, dan mereka yang dalam perspektif lebih dekat ditempatkan pada sisi bawah dari frame. Menariknya, objek lebih jauh dan lebih dekat dilukis dalam skala ukuran yang sama. Mirip halnya dengan lukisan Cina.

Di sekitar Ubud ada begitu banyak galeri lukisan. Anda juga dapat menemukan beberapa museum ternama yang terkenal di seluruh dunia, seperti Museum Antonio Blanco, Neka Art Museum, Museum Puri Lukisan, dan juga galeri pelukis Ubud yang terkenal, Lempad Gallery.
Di luar itu, Anda juga bisa pergi lebih jauh ke desa-desa sekitarnya seperti, Peliatan, sehingga bisa berkunjung ke rumah-rumah para pelukis setempat.
Diakui juga bahwa Ubud telah menerima penghargaan sebagai kota terbaik di Asia, menurut survei para pembaca dari majalah Amerika terkemuka, Conde Nast Traveller.

Aksesibilitas Rendah Sebagai Daya Jual Indonesia

Merenungkan salah satu prinsip tua dari ilmu ekonomi yakni tentang scarcity. Semua orang agaknya sudah mahfum bahwa semakin langka suatu barang, maka nilainya akan semakin tinggi. Hal ini karena barang tersebut akan menjadi sulit didapat dan sifatnya menjadi eksklusif.

Dalam perjalanan pembangunan kepariwisataan di Indonesia, kita senantiasa mendengar keluhan-keluhan baik dari para pengusaha, maupun dari kalangan pemerintah sendiri (yang bertanggung jawab atas pemasaran pariwisata nasional), bahwa sangat sulit untuk menjual pariwisata Indonesia karena salah satu faktor yang berat, yakni kesulitan sarana untuk menjangkau tempat-tempat wisata yang sebetulnya indah. Hal ini juga terungkap dari seorang pengusaha jasa perjalanan wisata di Papua, Bapak Sitepu dari Grand Irian Tours, "Sulit sekali mendapat tamu di sini, karena tempatnya susah dijangkau." Demikian ujarnya.

Apakah kita akan selalu beralasan sulitnya akses menjadi penghambat penjualan pariwisata Indonesia?

Dari sisi wisatawan, ternyata mereka merasa bahwa kunjungan ke tempat-tempat terpencil di Indonesia adalah merupakan suatu pengalaman yang menakjubkan.
Mereka tidak pernah menyangka akan benar-benar melihat orang-orang yang masih memelihara rumah-rumah batu mereka di tengah kemajuan peradaban zaman yang pesat seperti sekarang. Mereka terkagum-kagum saat

Membangun Merek Pariwisata Indonesia

Jika sekarang orang-orang Indonesia begitu bangga karena bisa berbelanja ke Singapura, itu adalah hasil perjuangan bangsa Singapura di masa-masa yang lalu, dan tidak terjadi begitu saja. Singapura membangun visi yang kuat di bidang pariwisata, dan bisa mereka capai dengan waktu kurang dari 20 tahun.

Menurut Ian Batey, ternyata sebuah negara juga memiliki karakter-karakter yang harus dibangun selayaknya sebuah identitas merek. Dalam bukunya ‘Asian Branding’, ia mengemukakan bahwa Indonesia pun sebetulnya memiliki potensi-potensi untuk membangun merek negaranya, sehingga bisa diperhitungkan dalam perniagaan global di dunia. Contoh yang diberikan juga cukup menarik, yakni bagaimana negara tetangga kita yang kecil mungil, ya, Singapura, berhasil membangun merek kepariwisataan negaranya.

Ini karena Singapura memahami bahwa negara lah yang harus membangun merek kepariwisataannya.

Menurut sejarah, Inggris dan Spanyol memiliki reputasi yang kuat di dalam bidang kepariwisataan. Negara-negara tersebut juga memiliki daya tarik wisata yang mengagumkan, prasarana yang baik, jasa pelayanan laut dan udara ke negara-negara tersebut cukup banyak, dan lain sebagainya.

Di lain pihak, Singapura, tidak memiliki daya tarik wisata seperti negara-negara tersebut. Lantas apa yang membuat negara ini memiliki merek pariwisata yang begitu kuat?