Showing posts with label Pemasaran Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pemasaran Pariwisata. Show all posts

Pengembangan Produk Pariwisata di Kampung Dago Pojok

Atas rasa kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan pariwisata di Kota Bandung, yang tampaknya tidak menyentuh lapisan masyarakat kampung di pinggiran Kota Bandung, maka disusunlah suatu tesis menyangkut salah satu Kampung Kreatif di Kota Bandung. Dalam tesis ini akan dibahas mengenai “Pengembangan Produk Pariwisata Perdesaan di Kampung Dago Pojok”. Berkembangnya kegiatan-kegiatan kebudayaan dan kegiatan-kegiatan kreatif di Kampung Dago Pojok sebagai respon atas ketidakterlibatan masyarakat dalam perkembangan pariwisata Bandung, merupakan suatu fenomena yang menarik untuk dikaji. Berangkat dari kekhawatiran masyarakat Kampung Dago Pojok yang tidak ingin tempat tinggalnya terabaikan karena penduduknya keluar mencari nafkah di kota, maka diinisiasi suatu gerakan sosial yang mengembangkan kegiatan budaya sebagai daya tarik wisata. Dengan kekhawatiran seperti itu, masyarakat Kampung Dago Pojok di pinggiran utara Kota Bandung, mencoba menghidupkan kegiatan-kegiatan kebudayaan di lingkungannya, dengan harapan akan bisa menjadi daya tarik untuk menjadi alternatif kunjungan wisatawan. Tesis ini menawarkan model pengembangan produk pariwisata secara terintegrasi dengan membuat perencanaan dan pengelolaan, serta pendidikan dan pelatihan agar kegiatan-kegiatan di kampung tersebut mampu dikelola oleh warga masyarakat sendiri, hingga mewujud sebagai suatu kesatuan produk pariwisata yang layak ditawarkan kepada wisatawan. Setelah produk pariwisata ini terbentuk, maka kedatangan wisatawan pun akan bisa ditingkatkan baik frekuensi maupun kualitas kunjungannya. Untuk presentasinya bisa diunduh di sini.

Bentuk Iklan Pariwisata Indonesia


Sesuai dengan tulisan sebelumnya tentang strategi pemasaran 'Multiple Niche' untuk pariwisata Indonesia, maka demikian juga dengan pembuatan iklan pariwisata Indonesia sebaiknya tidak menggunakan satu ide umum untuk mengiklankan seluruh negeri. Jika kita menyimak iklan-iklan negara tetangga, sepertinya beberapa negara masih menggunakan strategi satu iklan umum untuk mempromosikan seluruh negaranya. Meski demikian, Singapura sudah terlihat mulai menggunakan iklan untuk niche market mereka dalam mempromosikan pariwisatanya.


Salah satu iklan Singapura yang akhir-akhir ini tayang adalah iklan tentang 'Singapore Zoo'. Terlihat bagaimana Singapura berusaha mempromosikan satu saja niche mereka yakni kebun binatang yang merupakan bagian kecil saja dari pariwisata Singapura. Namun tentu saja jika orang yang melihat iklan tersebut tertarik untuk berkunjung ke kebun binatang itu, maka mau tidak mau ia akan harus datang mengunjungi negara Singapura juga.


Di Indonesia ada begitu banyak daya tarik wisata yang bisa digunakan untuk menjadi sebuah iklan niche market yang potensial. Jika iklan niche market itu berhasil, maka tentu orang yang melihat iklan tersebut, dan ingin berkunjung ke daya tarik wisata yang diiklankan tadi, akan harus berkunjung ke negara Indonesia terlebih dahulu.

Analoginya adalah seperti ketika seorang tuan rumah ingin mengundang tamunya untuk datang berkunjung.

Strategi ‘Multiple Niche’ Untuk Pengembangan Pariwisata di Indonesia


Sudah sejak sekolah dasar bangsa Indonesia didoktrin dengan pemahaman keberagaman sumber daya di negaranya. Termasuk, saat ini pemikirannya mulai berkembang, pemahaman tentang keberagaman sumber daya atraksi wisata di Indonesia. Namun dalam kehidupan sehari-harinya, tidak banyak orang Indonesia yang menyadari dan mampu mengelola keberagaman ini hingga menghasilkan sesuatu yang produktif.
Dalam bidang pariwisata misalnya, meski sumber dayanya begitu berlimpah, namun para pengusaha perjalanan wisata di Indonesia tampaknya lebih senang untuk melihat apa yang laku dijual oleh tetangganya. Jika tetangganya banyak tamu dengan jualan Kintamani - Besakih Tour, maka diapun tidak ingin repot-repot berinovasi, jadi ya, jual Kintamani - Besakih Tour juga saja.

Sudah saatnya sekarang para pengusaha pariwisata membuka mata lebar-lebar dan melihat sejauh mungkin untuk bisa menawarkan berbagai paket perjalanan wisata untuk niche market yang khusus.

Sementara itu, para pengusaha dari bangsa lain sudah sangat jeli dengan sumber daya pariwisata yang dimiliki negara ini. Pernahkah Anda mendengar Nihiwatu? Raja Ampat? Wakatobi? Mungkin beberapa orang yang membaca blog ini pernah mendengarnya. Tapi lebih mungkin lagi, kebanyakan yang membaca blog ini belum pernah mendengarnya.

Membangun Merek Pariwisata Indonesia

Jika sekarang orang-orang Indonesia begitu bangga karena bisa berbelanja ke Singapura, itu adalah hasil perjuangan bangsa Singapura di masa-masa yang lalu, dan tidak terjadi begitu saja. Singapura membangun visi yang kuat di bidang pariwisata, dan bisa mereka capai dengan waktu kurang dari 20 tahun.

Menurut Ian Batey, ternyata sebuah negara juga memiliki karakter-karakter yang harus dibangun selayaknya sebuah identitas merek. Dalam bukunya ‘Asian Branding’, ia mengemukakan bahwa Indonesia pun sebetulnya memiliki potensi-potensi untuk membangun merek negaranya, sehingga bisa diperhitungkan dalam perniagaan global di dunia. Contoh yang diberikan juga cukup menarik, yakni bagaimana negara tetangga kita yang kecil mungil, ya, Singapura, berhasil membangun merek kepariwisataan negaranya.

Ini karena Singapura memahami bahwa negara lah yang harus membangun merek kepariwisataannya.

Menurut sejarah, Inggris dan Spanyol memiliki reputasi yang kuat di dalam bidang kepariwisataan. Negara-negara tersebut juga memiliki daya tarik wisata yang mengagumkan, prasarana yang baik, jasa pelayanan laut dan udara ke negara-negara tersebut cukup banyak, dan lain sebagainya.

Di lain pihak, Singapura, tidak memiliki daya tarik wisata seperti negara-negara tersebut. Lantas apa yang membuat negara ini memiliki merek pariwisata yang begitu kuat?

Peran Komunikasi Visual Dalam Pengembangan Pariwisata Indonesia

Pariwisata merupakan industri jasa yang bersifat intangible. Pakar pariwisata dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Nuriata, mengatakan, insan pariwisata sesungguhnya menjual ‘mimpi’, atau dengan istilah lain yakni sebagai ‘architect of dreams‘ atau arsitek mimpi. Para wisatawan yang akan membeli sebuah paket wisata tidak akan mengetahui apa yang akan ia alami sampai ia benar-benar membeli paket wisata tersebut dan menjalaninya sampai selesai. Seakan-akan mereka hanyalah membeli mimpi. Lalu bagaimana caranya agar calon wisatawan bisa mendapatkan gambaran tentang apa yang akan mereka dapatkan saat membeli paket wisata yang kita tawarkan?

Insan pariwisata sesungguhnya merupakan seorang architect of dreams.

Cara yang paling tepat untuk memberi gambaran tentang suatu paket wisata adalah dengan gambar. Ada dua negara tetangga Indonesia yang lebih dulu menyadari hal ini.

Relevansi Filosofi “Someah Hade Ka Semah” Terhadap Kemajuan Pariwisata Priangan

Filosofi “Someah Hade Ka Semah” merupakan local wisdom dari tatar Sunda. Ini berarti bahwa urang Sunda harus ramah pada tetamunya. Ramah dalam arti menjamu, menjaga, memelihara, dan berupaya membahagiakan tamu mereka. Someah dalam basa Sunda berbeda dengan darehdeh. Darehdeh berarti banyak senyum dan membungkukan badan. Namun someah memiliki arti lebih luas seperti disinggung di atas.

Dalam hubungannya dengan kemajuan pariwisata di tatar Priangan, maka mari kita lihat terlebih dahulu potret pariwisata di Indonesia saat ini. Dari data terkini yang dikeluarkan oleh budpar.go.id, kita mendapati bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia turun. Jumlah wisatawan tertinggi dalam dasawarsa terakhir adalah di tahun 2002, sedangkan terendah yakni tahun 2006. Namun jika kita cermati tahun 2004, kita lihat jumlah wisatawan lebih sedikit dari 2002, namun pendapatan Indonesia dari pariwisata lebih tinggi dari 2002 yang jumlah wisatawannya tertinggi.

Ternyata dengan jumlah wisatawan lebih sedikit pada 2004, namun waktu tinggalnya sangat lama, maka jumlah belanjanya juga menjadi besar.

Data tersebut memperlihatkan bahwa ada faktor-faktor lain yang mengakibatkan besarnya pendapatan Indonesia dari pariwisata selain jumlah wisatawan yang datang.