Bentuk Iklan Pariwisata Indonesia
Salah satu iklan Singapura yang akhir-akhir ini tayang adalah iklan tentang 'Singapore Zoo'. Terlihat bagaimana Singapura berusaha mempromosikan satu saja niche mereka yakni kebun binatang yang merupakan bagian kecil saja dari pariwisata Singapura. Namun tentu saja jika orang yang melihat iklan tersebut tertarik untuk berkunjung ke kebun binatang itu, maka mau tidak mau ia akan harus datang mengunjungi negara Singapura juga.
Analoginya adalah seperti ketika seorang tuan rumah ingin mengundang tamunya untuk datang berkunjung.Di Indonesia ada begitu banyak daya tarik wisata yang bisa digunakan untuk menjadi sebuah iklan niche market yang potensial. Jika iklan niche market itu berhasil, maka tentu orang yang melihat iklan tersebut, dan ingin berkunjung ke daya tarik wisata yang diiklankan tadi, akan harus berkunjung ke negara Indonesia terlebih dahulu.
Strategi ‘Multiple Niche’ Untuk Pengembangan Pariwisata di Indonesia
Sudah saatnya sekarang para pengusaha pariwisata membuka mata lebar-lebar dan melihat sejauh mungkin untuk bisa menawarkan berbagai paket perjalanan wisata untuk niche market yang khusus.
Membangun Merek Pariwisata Indonesia
Jika sekarang orang-orang Indonesia begitu bangga karena bisa berbelanja ke Singapura, itu adalah hasil perjuangan bangsa Singapura di masa-masa yang lalu, dan tidak terjadi begitu saja. Singapura membangun visi yang kuat di bidang pariwisata, dan bisa mereka capai dengan waktu kurang dari 20 tahun.
Menurut Ian Batey, ternyata sebuah negara juga memiliki karakter-karakter yang harus dibangun selayaknya sebuah identitas merek. Dalam bukunya ‘Asian Branding’, ia mengemukakan bahwa Indonesia pun sebetulnya memiliki potensi-potensi untuk membangun merek negaranya, sehingga bisa diperhitungkan dalam perniagaan global di dunia. Contoh yang diberikan juga cukup menarik, yakni bagaimana negara tetangga kita yang kecil mungil, ya, Singapura, berhasil membangun merek kepariwisataan negaranya.
Ini karena Singapura memahami bahwa negara lah yang harus membangun merek kepariwisataannya.
Menurut sejarah, Inggris dan Spanyol memiliki reputasi yang kuat di dalam bidang kepariwisataan. Negara-negara tersebut juga memiliki daya tarik wisata yang mengagumkan, prasarana yang baik, jasa pelayanan laut dan udara ke negara-negara tersebut cukup banyak, dan lain sebagainya.
Di lain pihak, Singapura, tidak memiliki daya tarik wisata seperti negara-negara tersebut. Lantas apa yang membuat negara ini memiliki merek pariwisata yang begitu kuat?
Peran Komunikasi Visual Dalam Pengembangan Pariwisata Indonesia
Pariwisata merupakan industri jasa yang bersifat intangible. Pakar pariwisata dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Nuriata, mengatakan, insan pariwisata sesungguhnya menjual ‘mimpi’, atau dengan istilah lain yakni sebagai ‘architect of dreams‘ atau arsitek mimpi. Para wisatawan yang akan membeli sebuah paket wisata tidak akan mengetahui apa yang akan ia alami sampai ia benar-benar membeli paket wisata tersebut dan menjalaninya sampai selesai. Seakan-akan mereka hanyalah membeli mimpi. Lalu bagaimana caranya agar calon wisatawan bisa mendapatkan gambaran tentang apa yang akan mereka dapatkan saat membeli paket wisata yang kita tawarkan?
Insan pariwisata sesungguhnya merupakan seorang architect of dreams.
Cara yang paling tepat untuk memberi gambaran tentang suatu paket wisata adalah dengan gambar. Ada dua negara tetangga Indonesia yang lebih dulu menyadari hal ini.
Relevansi Filosofi “Someah Hade Ka Semah” Terhadap Kemajuan Pariwisata Priangan
Filosofi “Someah Hade Ka Semah” merupakan local wisdom dari tatar Sunda. Ini berarti bahwa urang Sunda harus ramah pada tetamunya. Ramah dalam arti menjamu, menjaga, memelihara, dan berupaya membahagiakan tamu mereka. Someah dalam basa Sunda berbeda dengan darehdeh. Darehdeh berarti banyak senyum dan membungkukan badan. Namun someah memiliki arti lebih luas seperti disinggung di atas.
Dalam hubungannya dengan kemajuan pariwisata di tatar Priangan, maka mari kita lihat terlebih dahulu potret pariwisata di Indonesia saat ini. Dari data terkini yang dikeluarkan oleh budpar.go.id, kita mendapati bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia turun. Jumlah wisatawan tertinggi dalam dasawarsa terakhir adalah di tahun 2002, sedangkan terendah yakni tahun 2006. Namun jika kita cermati tahun 2004, kita lihat jumlah wisatawan lebih sedikit dari 2002, namun pendapatan Indonesia dari pariwisata lebih tinggi dari 2002 yang jumlah wisatawannya tertinggi.
Ternyata dengan jumlah wisatawan lebih sedikit pada 2004, namun waktu tinggalnya sangat lama, maka jumlah belanjanya juga menjadi besar.
Data tersebut memperlihatkan bahwa ada faktor-faktor lain yang mengakibatkan besarnya pendapatan Indonesia dari pariwisata selain jumlah wisatawan yang datang.
