Pengembangan Produk Pariwisata di Kampung Dago Pojok
Atas rasa kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan pariwisata di Kota Bandung, yang tampaknya tidak menyentuh lapisan masyarakat kampung di pinggiran Kota Bandung, maka disusunlah suatu tesis menyangkut salah satu Kampung Kreatif di Kota Bandung. Dalam tesis ini akan dibahas mengenai “Pengembangan Produk Pariwisata Perdesaan di Kampung Dago Pojok”. Berkembangnya kegiatan-kegiatan kebudayaan dan kegiatan-kegiatan kreatif di Kampung Dago Pojok sebagai respon atas ketidakterlibatan masyarakat dalam perkembangan pariwisata Bandung, merupakan suatu fenomena yang menarik untuk dikaji. Berangkat dari kekhawatiran masyarakat Kampung Dago Pojok yang tidak ingin tempat tinggalnya terabaikan karena penduduknya keluar mencari nafkah di kota, maka diinisiasi suatu gerakan sosial yang mengembangkan kegiatan budaya sebagai daya tarik wisata. Dengan kekhawatiran seperti itu, masyarakat Kampung Dago Pojok di pinggiran utara Kota Bandung, mencoba menghidupkan kegiatan-kegiatan kebudayaan di lingkungannya, dengan harapan akan bisa menjadi daya tarik untuk menjadi alternatif kunjungan wisatawan. Tesis ini menawarkan model pengembangan produk pariwisata secara terintegrasi dengan membuat perencanaan dan pengelolaan, serta pendidikan dan pelatihan agar kegiatan-kegiatan di kampung tersebut mampu dikelola oleh warga masyarakat sendiri, hingga mewujud sebagai suatu kesatuan produk pariwisata yang layak ditawarkan kepada wisatawan. Setelah produk pariwisata ini terbentuk, maka kedatangan wisatawan pun akan bisa ditingkatkan baik frekuensi maupun kualitas kunjungannya. Untuk presentasinya bisa diunduh di sini.Matikan Handphone Dalam Penerbangan
Saya mendapatkan tulisan ini dalam wall di facebook saya. Paparan ini ditulis tertanda Erva Kurniawan, Direktorat Pesisir dan Lautan, Ditjen KP3K Departemen Kelautan dan Perikanan. Saya melihat tulisan ini sepertinya sangat penting untuk diketahui oleh khalayak luas. Untuk itu saya share dalam blog saya ini. Silahkan disimak.--Rakyat High-Class, Tapi.....
Saya sedih mendengar terbakarnya pesawat Garuda, GA 200 pada tanggal 7 Maret 2007, pukul 07.00 pagi, jurusan Jakarta-Yogyakarta di Bandara Adisucipto. Kejadian itu sungguh menyayat hati dan perasaan. Kemudian saya teringat beberapa bulan yang lalu terbang ke Batam dengan menggunakan pesawat Garuda juga. Di dalam pesawat duduk disamping saya seorang warga Jerman. Pada saat itu dia merasa sangat gusar dan terlihat marah, karena tiba-tiba mendengar suara handphone tanda sms masuk dari salah satu penumpang, di mana pada saat itu pesawat dalam posisi mau mendarat. Orang ini terlihat ingin menegur tetapi tidak berdaya karena bukan merupakan tugasnya.
Langsung saya tanya kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti itu, kemudian dia bercerita bahwa dia adalah manager salah satu perusahaan industri, di mana dia adalah supervisor khusus mesin turbin. Saat dia melaksanakan tugasnya tiba-tiba mesin turbin mati, setelah diselidiki ternyata ada salah satu petugas sedang menggunakan HP didalam ruangan mesin turbin.
Orang Jerman ini menjelaskan bahwa apabila frekwensi HP dengan mesin turbin ini kebetulan sama dan sinergi ini akan berakibat mengganggu jalannya turbin tersebut, lebih fatal lagi berakibat turbin bisa langsung mati.
Cerita ini langsung saya kaitkan dengan peristiwa di atas, kalau saya tidak salah mendengar mesin pesawat tiba-tiba mati pada saat mau mendarat. Mudah- mudan peristiwa ini bukan akibat HP penumpang. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk masyarakat yang sering bepergian dengan pesawat (KOMPAS).
Rakyat kita ini memang High Class... Handphone-nya Mahal, transportasi pun menggunakan pesawat terbang. Tapi bodohnya gk ketulungan. Ada yang gk tau kenapa larangan itu dibuat, ada yang tau tapi tetap gk peduli... Orang indonesia harus selalu belajar dengan cara yang keras.
Buat yang belum tahu, kenapa gak boleh menyalakan Handphone di pesawat, berikut penjelasannya:
Sektor-sektor Pembentuk Industri Pariwisata
Selama ini sering dipelajari bahwa ada 6 sektor utama yang membentuk pariwisata. Pengkategorian ini diambil dari pendapat Holloway yang mengkaji tentang industri pariwisata tersebut. Namun pada perkembangannya, saat ini cukup banyak juga pendapat-pendapat lain yang mencoba mengidentifikasi sektor-sektor atau bisnis-bisnis apa saja yang membentuk industri pariwisata ini.Silahkan bentuk kelompok dalam kelas Anda. Usahakan satu kelompok terdiri dari 4 orang. Sesuaikan dengan jumlah keseluruhan mahasiswa di kelas Anda. Setelah itu, diskusikan dengan kelompok Anda, dan cari pengkategorian yang lain tentang sektor-sektor atau bisnis-bisnis yang membentuk industri pariwisata, dengan mencari teori atau pendapat ahli yang lain selain Holloway.
Tuliskan hasil temuan Anda pada selembar kertas, lengkap dengan nama-nama anggota kelompok Anda, kemudian kumpulkan. Jika di kelas Anda terbentuk misalnya 6 kelompok, maka harus ada enam pengkategorian yang berbeda dari kategori Holloway tersebut.
Selamat bekerja!
Memajukan Pariwisata Indonesia Dengan Cruise
Banyak potensi wisata di Indonesia yang terletak di tempat-tempat yang sulit dijangkau. Para tour operator dari luar negeri (Eropa Barat) sudah lebih dahulu melihat potensi-potensi ini dan mereka lebih cepat menemukan pasar untuknya. Karena perkembangan wisata kapal pesiar juga sudah lebih dulu berkembang di negara-negara barat, maka tidak sulit bagi mereka untuk 'mengeksploitasi' potensi wisata yang sulit dijangkau tersebut yakni dengan menggunakan kapal pesiar.Tempat-tempat seperti Wakatobi, Raja Ampat, merupakan sebagian dari tempat-tempat indah yang berhasil ditemukan oleh para tour operator tersebut. Mereka mampu menjangkau dan menemukan tempat-tempat itu dengan cara menyelenggarakan paket wisata menggunakan kapal pesiar, atau Cruiseship. Jika saat ini banyak keluhan baik dari pihak pemerintah pusat, para pengusaha perjalanan, maupun pemerintah daerah, yang mengatakan sulit untuk mengembangkan pariwisata di Indonesia karena akses yang terbatas (oleh banyaknya laut), maka sebetulnya hal tersebut harusnya malah bisa menjadi kekuatan. Indonesia sangat kaya untuk membuat paket-paket wisata kapal pesiar.
Sayangnya, para pengusaha pariwisata dan juga para stakeholder pariwisata di Indonesia, sudah terlanjur terpaku pada paradigma pariwisata berbasis transportasi darat, dan udara.
Jadi dalam pemikiran mereka pariwisata sama artinya dengan pembangunan jalan raya dan bandar udara. Hal ini memang tidak salah juga.
Unique Sea Transportation for Tourism
As you might have already learnt, in tourism there are several types of transportation being used to fulfill the need of the tourists. In general, there are road transportation, rail transportation, sea transportation, and air transportation. In Indonesia, most of the area of the country is covered by sea. Therefore, to evolve the tourism in this country, it makes more sense if we thrive to use sea transportation.Like the other modes of transport, sea transportation also serves for three kind of use in the tours and travel industry. That is to serve as modes of transport from the origin country to the country of destination. Then, to serve as modes to explore the destination itself once they get there. The third use is to serve as the tourist attraction itself.
In order to understand more of the use of sea transportation for tours and travel industry, we should try to explore by ourselves more about the uniqueness of sea transportation in tourism.
Tour Quotation Based on C.A.T.
You can calculate a total tour payment by referring to the prices listed on the C.A.T. (Confidential Agent Tariff). As you already have some sample of the C.A.T., then you should be able to calculate total tour payment when there is a tour request from other tour operator.It is important for travel agencies to have a confidential agent tariff (C.A.T.) as they will be able to easily provide a much accurate tour calculation once there is a request. For example if there is a request of two or three tours in one day, the agent can just refer to the prices listed in their C.A.T. book and simply accumulate the total payment from that list.
The way to create a C.A.T. itself require other skill, which involved identification of favorable tourist attraction, calculating the timing, choosing the right route, and putting the right tour elements before packaging them in one product.
The C.A.T. itself will contain dozens of tours with different itineraries, different programs, and different prices. The prices in C.A.T. normally quoted based on per person prices under various range of number of participants.
Konsep Re-enactment Untuk Pengembangan Pariwisata Di Desa Adat
Dalam beberapa artikel di media massa, mulai terlihat ada geliat komunitas 're-enactment' yang cukup menggelitik. Komunitas ini merupakan pecinta sejarah, yang ingin membuat orang yang mempelajarinya tidak merasa bosan. Malah dengan cara mereka, sejarah menjadi nampak lebih hidup, menggairahkan, dan semakin mudah dipahami.Cara-cara 're-enactment' ini adalah dengan mencoba memerankan kembali peristiwa sejarah di masa lampau sehingga seolah-olah sedang berlangsung seperti kejadian aslinya. Para anggota komunitas ini benar-benar serius sampai-sampai dalam memerankan sejarah itu mereka khusus membuat kostum yang menyerupai aslinya. Peristiwa dan tokoh-tokoh yang mereka perankan pun direka ulang seakurat mungkin. Untuk itu mereka tidak segan-segan melakukan riset terlebih dahulu. Baik itu secara literatur maupun wawancara dengan saksi-saksi sejarah dan para ahli sejarah yang ada.
Dalam kaitannya dengan pengembangan desa adat sebagai daya tarik wisata, pola 're-enactment' ini bisa diterapkan agar kunjungan wisatawan terasa lebih hidup dan mengesankan.Para penduduk desa bisa didandani agar berperan sesuai dengan kehidupan desa adat tersebut di masa lampau. Jika para penduduk desa itu saat ini sudah berpakaian modern, hendaknya berpakaian ulang sesuai pakaian tradisional mereka. Juga peran-peran perangkat desa di masa silam bisa dihidupkan kembali dengan cara 're-enactment' tadi.
Pariwisata dan Kebudayaan - Sebuah Keterkaitan
Agar lebih jelas memahami keterkaitan kedua konsep tersebut, ada baiknya untuk dibahas masing-masing konsep terlebih dahulu satu per satu. Pertama, mengenai kebudayaan. Istilah kebudayaan sudah diperkenalkan oleh Edward B. Tylor, seorang antropolog dari Inggris, dengan cukup memadai dan sering menjadi rujukan bagi peneliti kebudayaan di masa sesudahnya. Ia menyatakan bahwa:
Culture, he wrote, is "that complex whole which includes knowledge, belief, art, morals, law, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society" (Tylor 1924 [orig. 1871]:1)
Komodifikasi Kebudayaan Oleh Pariwisata
“Kebudayaan mengalami komodifikasi di dalam industri pariwisata.” Apa sebenarnya maksud dan makna pernyataan tersebut? Apabila dilihat dari konsep komodifikasi, unsur-unsur kebudayaan mana sajakah yang rentan mengalami komodifikasi?Jika berbicara mengenai komodifikasi, maka sebetulnya kita merujuk pada paham kapitalisme yang dikemukakan oleh Karl Marx. Dalam Encyclopedia of Marxism, dikemukakan pengertian komodifikasi adalah sebagai berikut:
Komodifikasi berarti transformasi hubungan, sebelumnya bersih dari perdagangan, menjadi hubungan komersial, hubungan pertukaran, membeli dan menjual.
Sustainable Visitor Management System Untuk Sinergi Pariwisata dan Kebudayaan
Merujuk pada keterkaitan konsep antara pariwisata dan kebudayaan, maka bagaimana dan pada tataran mana terjadi konflik kepentingan ranah pariwisata dan budaya dapat muncul? Kemudian gagasan apa yang bisa dikemukakan terhadap sinergitas program pariwisata dan budaya?Konflik kepentingan ranah pariwisata dan budaya dapat muncul pada tataran motivasi pelaku kebudayaan dan juga pada tataran nilai-nilai yang diapresiasi. Hal-hal tersebut biasanya muncul karena antara pariwisata dan budaya memiliki orientasi yang berbeda, yang tidak pernah dicoba untuk dikompromikan. Biasanya para pelaku pariwisata yang akan mengapresiasi kegiatan budaya di suatu masyarakat, selalu meminta persetujuan pada tokoh masyarakat di situ, dan juga para pemilik sanggar yang akan mengadakan pertunjukkan tertentu. Jadi di sini tidak ada dari ‘pihak’ Kebudayaan yang bisa dimintai persetujuan, izin, atau restunya. Ketika para pelaku langsung kebudayaan itu setuju untuk memodifikasi pertunjukan kebudayaannya (bahkan ada yang menyetujui memodifikasi upacara adat), tentu pihak pelaku pariwisata pun merasa semuanya sudah berjalan baik-baik saja. Sehingga para wisatawan senang, pelaku kebudayaan senang (karena mendapat pemasukan untuk sanggarnya), juga si pelaku pariwisata merasa senang juga.
Hal ini kemudian menjadi tidak baik-baik saja, ketika ada para pegiat budaya, dan juga tokoh masyarakat lain, yang lantas merasa keberatan akan kegiatan kebudayaan yang sudah dimodifikasi tersebut.
Ubud, Desa Para Pelukis
Hal pertama yang terlintas dalam pikiran ketika seseorang mengatakan kata Ubud, adalah lukisan. Ubud tak diragukan lagi terpandang di mata dunia sebagai desa pelukis. Gaya lukisan di Ubud juga sangat spesifik. Hal ini sebenarnya dapat dianggap mirip dengan lukisan dari Cina dalam hal gaya perspektif. Lukisan Ubud secara tradisi menempatkan objek dalam perspektif yang dianggap terlihat jauh di sebelah atas lukisan, dan mereka yang dalam perspektif lebih dekat ditempatkan pada sisi bawah dari frame. Menariknya, objek lebih jauh dan lebih dekat dilukis dalam skala ukuran yang sama. Mirip halnya dengan lukisan Cina.Di sekitar Ubud ada begitu banyak galeri lukisan. Anda juga dapat menemukan beberapa museum ternama yang terkenal di seluruh dunia, seperti Museum Antonio Blanco, Neka Art Museum, Museum Puri Lukisan, dan juga galeri pelukis Ubud yang terkenal, Lempad Gallery.
Di luar itu, Anda juga bisa pergi lebih jauh ke desa-desa sekitarnya seperti, Peliatan, sehingga bisa berkunjung ke rumah-rumah para pelukis setempat.Diakui juga bahwa Ubud telah menerima penghargaan sebagai kota terbaik di Asia, menurut survei para pembaca dari majalah Amerika terkemuka, Conde Nast Traveller.
Aksesibilitas Rendah Sebagai Daya Jual Indonesia
Merenungkan salah satu prinsip tua dari ilmu ekonomi yakni tentang scarcity. Semua orang agaknya sudah mahfum bahwa semakin langka suatu barang, maka nilainya akan semakin tinggi. Hal ini karena barang tersebut akan menjadi sulit didapat dan sifatnya menjadi eksklusif.Dalam perjalanan pembangunan kepariwisataan di Indonesia, kita senantiasa mendengar keluhan-keluhan baik dari para pengusaha, maupun dari kalangan pemerintah sendiri (yang bertanggung jawab atas pemasaran pariwisata nasional), bahwa sangat sulit untuk menjual pariwisata Indonesia karena salah satu faktor yang berat, yakni kesulitan sarana untuk menjangkau tempat-tempat wisata yang sebetulnya indah. Hal ini juga terungkap dari seorang pengusaha jasa perjalanan wisata di Papua, Bapak Sitepu dari Grand Irian Tours, "Sulit sekali mendapat tamu di sini, karena tempatnya susah dijangkau." Demikian ujarnya.
Apakah kita akan selalu beralasan sulitnya akses menjadi penghambat penjualan pariwisata Indonesia?
Dari sisi wisatawan, ternyata mereka merasa bahwa kunjungan ke tempat-tempat terpencil di Indonesia adalah merupakan suatu pengalaman yang menakjubkan.Mereka tidak pernah menyangka akan benar-benar melihat orang-orang yang masih memelihara rumah-rumah batu mereka di tengah kemajuan peradaban zaman yang pesat seperti sekarang. Mereka terkagum-kagum saat
Menjadi Agen Tiket Pesawat Online Kini Semakin Mudah
Prospek Bisnis online di bidang penjualan tiket pesawat masih sangat besar peluangnya, selama perusahaan penerbangan masih ada dan dunia pariwisata terus berkembang, bisnis tiket pesawat masih layak untuk dipertimbangkan, hal yang perlu diperhatikan adalah menjamurnya pusat penjualan tiket dimana – mana, sehingga daya saing semakin tinggi, perlu suatu terobosan yang inovatif agar tetap bersaing sehat.Menjadi Agen Tiket Pesawat secara online tidaklah lagi sesulit yang Anda bayangkan seperti halnya dulu.Bahkan kini bisa dilakukan kapan saja di mana saja oleh Anda yang berprofesi sebagai karyawan, pengusaha, ibu rumah tangga, mahasiswa, atau siapa saja.
Bentuk Iklan Pariwisata Indonesia
Salah satu iklan Singapura yang akhir-akhir ini tayang adalah iklan tentang 'Singapore Zoo'. Terlihat bagaimana Singapura berusaha mempromosikan satu saja niche mereka yakni kebun binatang yang merupakan bagian kecil saja dari pariwisata Singapura. Namun tentu saja jika orang yang melihat iklan tersebut tertarik untuk berkunjung ke kebun binatang itu, maka mau tidak mau ia akan harus datang mengunjungi negara Singapura juga.
Analoginya adalah seperti ketika seorang tuan rumah ingin mengundang tamunya untuk datang berkunjung.Di Indonesia ada begitu banyak daya tarik wisata yang bisa digunakan untuk menjadi sebuah iklan niche market yang potensial. Jika iklan niche market itu berhasil, maka tentu orang yang melihat iklan tersebut, dan ingin berkunjung ke daya tarik wisata yang diiklankan tadi, akan harus berkunjung ke negara Indonesia terlebih dahulu.
Upaya Jepang Memulihkan Pariwisatanya (Pasca Tsunami)
Sejak bencana gempa dan tsunami yang dialami Jepang, agaknya banyak hal yang bisa kita pelajari bagaimana pemerintah Jepang begitu proaktif dalam memulihkan industri pariwisatanya. Salah satu contohnya adalah adanya organisasi pariwisata yang dikelola pemerintah yang menyelenggarakan perjalanan ke Jepang untuk para agen perjalanan internasional dan para penulis wisata (travel writers). Selain itu pemerintah juga berupaya membujuk hotel di Tokyo untuk menawarkan diskon bagi para pengunjung, kemudian dipostingnya informasi online - termasuk posting video dengan selebriti dan informasi tingkat radiasi - untuk menunjukkan bahwa sebagian besar negara tersebut sudah aman untuk menerima pengunjung. Di antara sekian upaya itu adalah adanya video online tentang pebalap mobil, peseluncur es dan selebriti lainnya, termasuk Lady Gaga, yang mendorong para wisatawan untuk mengunjungi negara ini.Meski demikian industri pariwisata Jepang menghadapi beberapa rintangan, termasuk rasa takut berlarut-larut di antara para pelancong asing tentang potensi bahaya radiasi dan meningkatnya harga bahan bakar yang membuat harga tiket pesawat ke Jepang menjadi tinggi.
Selain itu, harga tiket pesawat ke Jepang terus naik seiring dengan kenaikan harga bahan bakar jet selama beberapa bulan terakhir. Contohnya, tiket kelas ekonomi round trip dari Los Angeles ke Tokyo menggunakan Japan Airlines biayanya mencapai hampir $ 1.300 per orang, termasuk hampir $ 600 biaya tambahan bahan bakar.
Setelah bencana, jumlah pengunjung AS untuk Jepang turun sekitar 45% pada Maret dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu, menurut statistik awal dari Organisasi Pariwisata Nasional Jepang. Kelompok pariwisata memperkirakan bahwa jumlah wisatawan Amerika turun 55% pada bulan April dan 38% pada bulan Mei, dibandingkan dengan bulan-bulan yang sama pada tahun 2010.
Turis dan agen perjalanan yang telah mengunjungi Jepang sejak bencana mengatakan pengunjungUntuk meningkatkan angka pariwisata, kelompok pariwisata nasional menyelenggarakan perjalanan bagi para agen perjalanan dan wartawan di bulan Juni, untuk menunjukkan kemajuan yang telah dibuat di Jepang. Beberapa hotel yang sebelumnya dijual sampai $ 260 semalam juga telah memotong tarif mereka pada bulan Juli hingga hampir setengahnya.
Strategi ‘Multiple Niche’ Untuk Pengembangan Pariwisata di Indonesia
Sudah saatnya sekarang para pengusaha pariwisata membuka mata lebar-lebar dan melihat sejauh mungkin untuk bisa menawarkan berbagai paket perjalanan wisata untuk niche market yang khusus.
Idea Promosi Pariwisata Indonesia
Sumber: www.indonesiamatters.com ~ oleh The Righteous Dude, 19 Maret 2009Dengan berkampanyenya Menteri Pariwisata dan Kebudayaan (seperti kebanyakan rekan-rekannya dan hampir semua anggota parlemen) untuk Pemilu Parlemen, saya pikir ini akan menjadi waktu yang cocok bagi yang lain guna membicarakan beberapa inisiatif baru untuk meningkatkan jumlah wisatawan internasional di Indonesia.
Saya pribadi berharap bahwa Indonesia akan belajar beberapa pelajaran dari promosi Visit Indonesia Year 2008, seperti:
Membangun Merek Pariwisata Indonesia
Jika sekarang orang-orang Indonesia begitu bangga karena bisa berbelanja ke Singapura, itu adalah hasil perjuangan bangsa Singapura di masa-masa yang lalu, dan tidak terjadi begitu saja. Singapura membangun visi yang kuat di bidang pariwisata, dan bisa mereka capai dengan waktu kurang dari 20 tahun.
Menurut Ian Batey, ternyata sebuah negara juga memiliki karakter-karakter yang harus dibangun selayaknya sebuah identitas merek. Dalam bukunya ‘Asian Branding’, ia mengemukakan bahwa Indonesia pun sebetulnya memiliki potensi-potensi untuk membangun merek negaranya, sehingga bisa diperhitungkan dalam perniagaan global di dunia. Contoh yang diberikan juga cukup menarik, yakni bagaimana negara tetangga kita yang kecil mungil, ya, Singapura, berhasil membangun merek kepariwisataan negaranya.
Ini karena Singapura memahami bahwa negara lah yang harus membangun merek kepariwisataannya.
Menurut sejarah, Inggris dan Spanyol memiliki reputasi yang kuat di dalam bidang kepariwisataan. Negara-negara tersebut juga memiliki daya tarik wisata yang mengagumkan, prasarana yang baik, jasa pelayanan laut dan udara ke negara-negara tersebut cukup banyak, dan lain sebagainya.
Di lain pihak, Singapura, tidak memiliki daya tarik wisata seperti negara-negara tersebut. Lantas apa yang membuat negara ini memiliki merek pariwisata yang begitu kuat?
Melihat Iklan Pariwisata Sarawak Melalui Semiotika
Menarik saat mencermati kajian-kajian budaya yang dilakukan oleh para ahli semiologi, dilakukan dengan menggunakan analisis semiotika. Dalam semiotika dikenal istilah signifier dan signified, atau secara umum dikenal sebagai simbolisasi. Jadi dalam setiap tanda, dalam hal ini berupa gambar atau foto, terkandung makna tingkat kedua (signified) yang merupakan simbol akan suatu makna tertentu. Makna tersebut didapat dari konvensi tidak tertulis dalam bahasa manusia.
Dalam bukunya Semiotika Negativa, ST. Sunardi mengemukakan contoh penggunaan semiotika dalam melihat sebuah iklan pariwisata. Jadi dalam iklan pariwisata, kita perlu menggambarkan suatu atraksi wisata menggunakan wujud simbolik. Misalnya ketika kita ingin menyampaikan “Indonesia” kepada wisatawan di luar negeri, Borobudur digunakan sebagai simbol. Atau mungkin bisa saja wayang, atau batik. Gambar-gambar itu, menurut Sunardi, menawarkan berbagai signifieds (tanda) yang pada dirinya melekat nilai-nilai bagi para wisatawan yang melihatnya. Misalnya Borobudur adalah Indonesia. Nilai yang melekat adalah tropis, eksotis, etnik, dan… murah!
Imajinasi wisatawan terbawa larut jauh kepada pariwisata Sarawak yang cantik. Sarawak tampil laksana sebuah negeri ajaib dengan sumber alam yang besar.
Lalu bagaimana semiotika melihat iklan pariwisata Sarawak (negara bagian di Malaysia), yang begitu sukses mendatangkan minat wisatawan mancanegara (khususnya negara-negara barat). Nilai-nilai apa yang begitu kuat, yang kiranya dikandung oleh iklan tersebut?

